welcme

Selamat Datang Semoga Anda Puas hehehe

Minggu, 27 Juni 2010

Perbedaan Pembelajaran Konvesinal dengan Hypnoyeaching

Perbedaan Antara Pembelajaran konvensional Dengan Hypnoteaching

# Pembelajaran Konvensional

1. Pengertian

Menurut Djamarah (1996) metode pembelajaran konvensional adalah metode pembelajaran tradisional atau disebut juga dengan metode ceramah, karena sejak dulu metode ini telah dipergunakan sebagai alat komunikasi lisan antara guru dengan anak didik dalam proses belajar dan pembelajaran.

2. Ciri-ciri

· Mengajar dengan cara ceramah

· Lebih mengutamakan hafalan dari pada pengertian

· Menekankan pada kemampuan berhitung

· Mengutamakan hasil dari pada proses

· Pengajaran berpusat pada guru

3. Kelebihan

· Lebih mudah dilakukan

4. kelemahan

· Para siswa tidak tau tujuan mereka belajar pada waktu itu

· Siswa jarang sekali mendapat kesempatan menyatakan pendapat

· Guru jarang mengajar siswa untuk menganalisa secara mendalam tentang suatu konsep

· Siswa jarang untuk menggunakan penalaran logis yang lebih tinggi seperti kemampuan membuktikan atau memperlihatkan suatu konsep

· Siswa hampir tidak pernah dituntut untuk mencoba strategi dan cara (alternatif) sendiri dalam memecahkan masalah

· Menjadi pasif dalam belajar

· Belajar siswa kurang bermakna karena lebih banyak hapalan.

# Hypnoteaching

1. Pengertian

Yaitu menyajikan materi pelajaran dengan menggunakan bahasa-bahasa bawah sadar. Sehingga perhatian siswa akan tersedot secara penuh pada materi.

2. Langkah-langkah dalam Hypnoteaching

· Niat dan motivasi dalam diri guru atau pengajar

· Pacing

Pacing berarti menyamakan posisi, gerak tubuh, bahasa, serta gelombang otak dengan orang lain, atau siswa. Secara alami dan naluriah, setiap orang pasti akan merasa nyaman dan senang untuk berkumpul dengan orang lain yang memiliki kesamaan dengannya. Kesamaan-kesamaan diantara beberapa orang, akan memancarkan gelombang otak yang sama. Sehingga orang-orang dalam golongan itu akan merasa nyaman berada di dalamnya. Dengan kenyamanan yang bersumber dari kesamaan gelombang otak ini, maka setiap pesan yang disampaikan dari orang satu pada orang-orang yang lain akan dapat diterima dan dipahami dengan sangat baik.

· Leading

Leading berarti memimpin atau mengarahkan setelah proses pacing Anda lakukan.

· Gunakan kata positif

Penggunaan kata positif ini sesuai dengan cara kerja pikiran bawah sadar yang tidak mau menerima kata negative. Jika ada kata negative, maka yang diterima adalah kata dibelakang kata negative tersebut. Sedangkan kata negative-nya diabaikan. Misalnya kalimat “jangan ramai”, maka yang ditangkap adalah “ramai”. Maka yang terjadi siswa Anda malah ramai. Dalam hal ini, sebaiknya cari padanan kata yang positif. Misalnya “jangan ramai” diganti “tenang” atau “diam”.

· Berikan pujian

Pujian merupakan reward peningkatan harga diri seseorang. Pujian merupakan salah satu cara untuk membentuk konsep diri seseorang. Dalam memberikan pujian, hindari pula kata penghubung negative. Misalnya : tapi, namun, cuma saja, dan lain sebagainya. Karena penggunaan kata-kata tersebut akan membuat pujian Anda sia-sia dan terkesan mengolok-olok. Cara untuk menghindari kata penghubung negative adalah dengan menghilangkan kata penghubung tersebut. Misalnya “Kamu sebetulnya adalah siswa yang pandai, sangat membanggakan. Akan lebih membanggakan lagi kalau kamu lebih memperhatikan kerapian penampilanmu”.

· Modeling

Modeling adalah proses memberi tauladan melalui ucapan dan perilaku yang konsisten.

3. Kelebihan

· Siswa akan melakukan pembelajaran dengan senang hati

· Lebih memotivasi siswa untuk terus belajar dan berprestsi

· Perhatian siswa akan tersedot penuh terhadap materi

· Siswa akan lebih memahami dari pada menghafal

· Ada interaksi yang baik antara guru dan siswa

4. Kelemahan

· Perlu pembelajaran agar guru bisa melakukan Hypnoteaching

# Kesimpulan

Pembelajaran Konvensional dan Hypnoteaching sangat berbeda. Pembelajaran Konvensional lebih menekankan pada hafalan bukan pada penalaran sehingga siswa hanya dituntut untuk mendengarkan dan mencatat. Sedangkan Hypnoteaching menggunakan bahasa bawah sadar untuk pembelajaran sehingga siswa dengan suka rela dan senang hati melakukan semua proses pembelajaran. Sehingga materi yang terserap oleh siswa akan lebih sempurna.

Dalam perkembangan jaman Pembelajaran Konvensional sudah tidak efektif lagi digunakan dalam proses belajar mengajar dan seharusnya sudah digantikan dengan Hypnoteaching agar semakin baiknya pendidikan di Indonesia.

Senin, 21 Juni 2010

komite sekolah sebagai organisasi sekolah

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pada dasarnya di setiap sekolah banyak terjadi kesalahan dalam sebuah organisasi atau komite di dalamnya. Kesalahan ini banyak disebabkan karena masing-masing jabatan tidak sesuai dengan apa yang menjadi tanggungjawabnya. Atau biasa disebabkan karena ketipang-tindihan suatu job. Hal ini mengakibatkan ketidakfokusan pada tanggungjawabnya masing-masing.

B. Rumusan Masalah

Komite Sekolah sebagai bagian dari organisasi pendidikan.

C. Tujuan

Menjelaskan tentang komite sekolah yang meliputi pembentukan, peran, fungsi, tujuan dan pengelolaan.

BAB II

KOMITE SEKOLAH

SEBAGAI SEBUAH ORGANISASI

I. PEMBENTUKAN KOMITE SEKOLAH

  1. KOMITE SEKOLAH DIBENTUK :

- Berdasarkan Undang-Undang No. 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (PROPENAS)

Dalam Bab VII Pembangunan Pendidikan di point program-program Pembangunan komite sekolah termasuk Sasaran yang akan dicapai oleh program pembinaan pendidikan dasar dan prasekolah.

- Dijabarkan dalam Kepmendiknas No. 044/U/2002

- Sebagai acuan dapat digunakan Lampiran II Kepmendiknas No. 033/U/2002

Komite Sekolah/Madrasah sebagai lembaga mandiri dibentuk dan berperan dalam peningkatan mutu pelayanan dengan memberikan pertimbangan, arahan dan dukungan tenaga, sarana dan prasarana, serta pengawasan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan
(Pasal 56, ayat 3 UU Nomor 20 Tahun 2003)

  1. Pengertian Komite Sekolah Sebagai Organisasi

- Dibentuk di satuan pendidikan atau kelompok satuan pendidikan

- Dapat berbeda strukturnya satu dengan yang lain

- Namun ada acuan yang diharapkan sama, yaitu tentang PERAN dan FUNGSI

Maksud dibentuknya Komite Sekolah adalah agar ada suatu organisasi masyarakat sekolah yang mempunyai komitmen dan loyalitas serta peduli terhadap peningkatan kualitas pendidikan

Komite Sekolah yang dibentuk dikembangkan secara khas dan berakar dari budaya, demografis, ekologis, nilai kesepakatan, serta kepercayaan yang dibangun sesuai dengan Potensi Masyarakat Setempat yang merupakan pengembang kekayaan filosofis masyarakat secara kolektif

KOMITE SEKOLAH mengembangkan konsep yang berorientasi kepada :

- Pengguna (client model)

- Berbagi kewenangan (power sharing and advocacy model)

- Kemitraan (partnership model)

à difokuskan pada peningkatan mutu pendidikan

  1. TUJUAN

Tujuan pembentukan Komite Sekolah adalah :

1. Mewadahi dan menyalurkan aspirasi dan prakarsa masyarakat dalam melahirkan kebijakan operasional dan program pendidikan di satuan pendidikan

2. Meningkatkan tanggung-jawab dan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan

3. Menciptakan suasana dan kondisi transparan, akuntabel, dan demokratis dalam penyelenggaraan dan pelayanan pendidikan yang bermutu di satuan pendidikan

  1. PERAN KOMITE SEKOLAH

1. Sebagai Lembaga PEMBERI PERTIMBANGAN (advisory agency) n

dalam penentuan dan pelaksanaan kebijakan pendidikann.

2. Sebagai Lembaga PENDUKUNG (supporting agency)

baik yang berwujud financial, pemikiran maupun tenaga dalam penyelenggaraan pendidikan;

3. Sebagai Lembaga PENGONTROL (controlling agency)

dalam rangka transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan dan keluaran pendidikan;

4. Mediator antara pemerintah (eksekutif) dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (legislatif) dengan masyarakat.



  1. FUNGSI KOMITE SEKOLAH

1. Mendorong tumbuhnya perhatian dan komitment masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan yang bermutu

2. Melakukan kerjasama dengan masyarakat (perorangan/organisasi/dunia usaha dan dunia industri (DUDI)) dan pemerintah berkenaan dengan penyelenggaraan pendidikan bermutu

3. Menampung dan menganalisis aspirasi, ide, tuntutan, dan berbagai kebutuhan pendidikan yang diajukan oleh masyarakat

4. Memberikan masukan, pertimbangan, dan rekomendasi kepada satuan pendidikan

5. Mendorong orang tua siswa dan masyarakat untuk berpartisipasi dalam pendidikan guna mendukung peningkatan mutu pendidikan dan pemerataan pendidikan

6. Menggalang dana masyarakat dalam rangka pembiayaan penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan

7. Melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap kebijakan, program, dan keluaran pendidikan di satuan pendidikan

II. PERANGKAT ORGANISASI KOMITE SEKOLAH

1. PENGERTIAN ORGANISASI

Organisasi adalah kesatuan (entity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasi, yang bekerja atas dasar keterikatan yang relatif terus menerus untuk mencapai tujuan atau sekelompok tujuan.

Definisi ini cocok jika diterpkan pada Komite Sekolah

2. PERANGKAT MINIMAL di Komite Sekolah :

a. Kepengurusan

Contoh Struktur Kepengurusan yang sederhana :

- Ketua

- Sekretaris

- Bendahara

- Anggota

b. Struktur Organisasi

Contoh Struktur Organisasi :

c. Job description tiap personel

Mengatur SIAPA MENGERJAKAN APA dan SIAPA BERTANGGUNG JAWAB KEPADA SIAPA Agar tidak ada tumpang tindih tugas dan kewenangan Tata-hubungan antarpersonel Perlu diperhatihan : INTEREST dan KEAHLIAN

d. AD/ART (atau panduan organisasi)

Merupakan salah satu perangkat organisasi yang penting dan HARUS ADA

Bentuk dapat bervariasi bergantung pada tingkat besar/kecilnya organisasi

AD/ART mengatur :

a. Dasar dan Tujuan organisasi

b. Kegiatan organisasi

c. Keanggotaan dan kepengurusan

d. Pengeloaan keuangan

e. Mekanisme pengambilan keputusan

f. Perubahan AD/ART

g. Pembubaran organisasi

e. Fasilitas Penunjang

Organisasi mustahil dapat berjalan tanpa fasilitas penunjang (fasilitas penunjang organisasi Komite Sekolah minimal adalah meja kerja Ketua Komite Sekolah), atau lebih baik ada ruang kerja Komite Sekolah

Dapat bervariasi dari satuan pendidikan ke satuan pendidikan

III. MEMBANGUN ORGANISASI KOMITE SEKOLAH YANG EFEKTIF

Langkah Pertama :

1. KONSOLIDASI ORGANISASI :

- Penyamaan Visi

Sebuah organisasi dapat berjalan dengan baik apabila semua angota pengurus dan anggota memiliki visi yang sama,

Dalam hal KOMITE SEKOLAH visinya, misalnya, adalah menjadikan sekolah INI, sekolah yang mampu menghasilkan lulusan yang bermutu secara intelektual, emosional, dan spiritual

- Membangun Tim yang Efektif

Sebuah organisasi tidak akan berjalan dengan baik apabila tidak ada kebersamaan di dalam Tim.

KOMITE SEKOLAH harus mm\embangun TEAM WORK yang baik

- Mengembangkan Kreativitas

Sebuah organisasi dapat berjalan lebih cepat, efektif, dan efisien apabila organisasi tersebut dipenuhi oleh orang-orang yang penuh kreativitas

Orang yang kreatif adalah orang yang selalu bertanya tentang sesuatu hal yang dianggap masalah

Orang yang kreatif adalah orang yang selalu berfikir untuk memecahkan suatu masalah

Orang yang kreatif adalah orang yang selalu memiliki gagasan-gagasan baru, yang kadang-kadang tidak pernah difikirkan orang lain

2. PELAKSANAAN PROGRAM KOMITE SEKOLAH

Sebuah organisasi dapat dikatakan berjalan apabila organisasi tersebut melaksanakan program dan kegiatan. Kegiatan merupakan penjabaran dari Program.

3. LANGKAH PENYUSUNAN PROGRAM DAN KEGIATAN

1. IDENTIFIKASI MASALAH

2. PENENTUAN PRIORITAS

3. ANALISIS MASALAH

4. PERENCANAAN PROGRAM

5. PELAKSANAAN PROGRAM

6. EVALUASI PROGRAM

BAB III

PENUTUP

  • KOMITE SEKOLAH sebagai sebuah organisasi perlu dikelola dengan baik dengan menerapkan berbagai prinsip dan praktik-praktik manajemen organisasi.
  • Dapat dimengerti apabila belum semua KOMITE SEKOLAH mampu menjalankan organisasi dengan prinsip-prinsip tersebut.
  • Tetapi bahwa tekad untuk meningkatkan mutu pendidikan di satuan pendidikan merupakan alsasan seseorang mengabdikan dirinya di organisasi KOMITE SEKOLAH bukan karena alasan lain.

Daftar Pustaka

- UU no.25 tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional

- Kepmendiknas No. 044/U/2002 + lampiran 2

- Lampiran II Kepmendiknas No. 033/U/2002

- Ahmad Sudrajad, 2008, Komite Sekolah Sebagai Organisasi Pendidikan, akhmadsutrajat.wordpress.com.27 April 2010